بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Bagaimana Jika Saya Katakan Bahwa Dulu Satu Penghasilan Bisa Membeli Rumah, Mobil, dan Hidup Nyaman?
Satu perubahan dalam ekonomi memastikan hal itu tak akan terjadi lagi.
Inilah bagaimana feminisme digunakan untuk menggandakan jumlah pekerja, menekan upah, dan menjadikan dua penghasilan sebagai kebutuhan.
Dulu, Satu Penghasilan Sudah Cukup
Pada tahun 1960-an, seorang pekerja pabrik, guru, atau pemilik usaha kecil bisa membeli rumah, menghidupi keluarga, dan pensiun dengan nyaman—hanya dengan satu penghasilan.
Hari ini? Bahkan dua gaji penuh waktu nyaris tak cukup untuk membayar sewa.
Apa yang Berubah?
Feminisme didorong sebagai gerakan "pemberdayaan," tetapi siapa yang sebenarnya diuntungkan ketika perempuan berbondong-bondong masuk ke dunia kerja?
- Korporasi mendapat dua kali lipat tenaga kerja.
- Upah stagnan karena pasar dipenuhi pekerja baru.
- Pajak meningkat dua kali lipat, karena pemerintah kini bisa mengenakan pajak pada dua penghasilan, bukan satu.
Efek Ganda di Dunia Kerja
Sebelum tahun 1970-an, perusahaan harus membayar upah yang cukup bagi seorang pria untuk menghidupi keluarganya. Namun, begitu perempuan memasuki pasar kerja, jumlah pekerja melonjak, dan upah pun berhenti naik.
- Satu gaji yang dulu cukup, kini harus ditopang dengan dua penghasilan agar keluarga bisa bertahan.
- Apa yang dijual sebagai "pilihan" ternyata adalah keharusan, karena kelas menengah semakin bergantung pada dua sumber pendapatan.
Rumah Semakin Mahal, Hidup Semakin Sulit
Pada tahun 1970-an, harga rumah hanya 2-3 kali lipat pendapatan tahunan rata-rata. Namun, pada tahun 2000-an, harga tersebut melonjak menjadi 7-10 kali lipat.
- Bank, investor, dan tuan tanah menyesuaikan harga dengan meningkatnya pendapatan rumah tangga dari dua gaji.
- Kepemilikan rumah, yang dulu menjadi standar kelas menengah, kini menjadi impian yang semakin sulit digapai.
Siapa yang Mendidik Anak-anak?
Dengan kedua orang tua bekerja, siapa yang mengasuh anak-anak? Maka muncullah sistem penitipan anak, sekolah negeri, dan media sebagai "pendidik" baru.
- Anak-anak tidak lagi dibesarkan oleh keluarga, melainkan oleh lembaga dan orang asing.
- Sistem ini membentuk pola pikir generasi muda, membuat mereka menerima realitas baru dan kehilangan nilai-nilai keluarga.
Distraksi dalam Bentuk Konsumerisme
Agar masyarakat tetap teralihkan, mereka dijual ilusi kebahagiaan melalui budaya konsumtif.
- Kartu kredit, pinjaman, dan liburan dipasarkan sebagai kunci kebahagiaan.
- Alih-alih membangun kekayaan lintas generasi, keluarga justru didorong untuk berutang, bekerja lebih keras hanya demi mempertahankan citra kesuksesan.
Jadi, Siapa yang Sebenarnya Menang?
- Korporasi mendapatkan tenaga kerja dua kali lipat tanpa harus menaikkan upah.
- Bank menciptakan generasi yang terjebak dalam utang seumur hidup.
- Pemerintah menggandakan pendapatan pajaknya dalam semalam.
- Investor dan tuan tanah membuat kepemilikan rumah tak lagi terjangkau bagi kebanyakan orang.
Dan masyarakat biasa?
Mereka harus bekerja lebih keras, dibayar lebih rendah, dan kehilangan kehidupan nyaman yang dulu dinikmati oleh kakek-nenek mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar